Kamis, 28 Agustus 2014

Cara Keledai Membaca Buku
                Alkisah, Abdul menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Abdul memberi syarat, ajari terlebih dahulu keledai itu membaca. Dua minggu setelah sekarang, datanglah kembali kemari, dan kita lihat apa yang akan terjadi.
                Nasrudin berlalu, sambil menuntun keledai itu ia memikirkan apa yang akan diperbuat. Jika dapat mengajari keledai itu membaca, tentu ia akan menerima hadiah, namun jika tidak, hukuman pasti akan ditimpakan kepadanya.
                Dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Abdul menunjuk ke sebuah buku besar agar Nasrudin segera mempraktekkan apa yang telah ia lakukan. Nasrudin lalu menggiring keledainya mengahadap kea rah buku tersebut, dan membuka sampulnya.
                Si keledai menatap buku itu. Dan ajaib,tak lama kemudian Si keledai mulai membuka-buka buku itu dengan lidahnya. Terus-menerus, lembar demi lembar hingga halaman terakhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin seolah berkata ia telah membaca seluruh isi bukunya. Demikianlah, kata Nasrudin, keledaiku sudah membaca semua lembar bukunya. Abdul merasa ada yang tidak beres dan mulai menginterogasi, bagaimana caramu mengajari dia membaca ?
                Nasrudin berkisah, sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji itu, kalau tidak ditemukan biji gandumnya ia harus membalik halaman berikutnya. Dan itu ia lakukan terus sampai ia terlatih membalik-balik halaman buku itu.

                Tapi, bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ? ucap Abdul. Nasrudin menjawab, memang demikianlah cara keledai membaca, hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Jadi kalau kita juga membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita sebodoh keledai, bukan ? kata Nasrudin dengan serius.  

Selasa, 05 Agustus 2014

Contoh Teks Anekdot tentang Lingkungan Sekolah

Suatu hari, diceritakan disebuah sekolah yang sangat terkenal dengan prestasinya namun tidak dibidang kebersihan dan lingkungan hidup. Saat itu di pintu gerbang sekolah... 
Fikar : “Eh Dil, menurutmu gimana sekolah kita ini kok kotor banget sih banyak sampahnya lagi. Hiiii.” (bergidik)
 
Adil    : “Iya Fik, mana sampahnya numpuk disudut sekolah, di laci meja. Kalau bisa mah aku panggil aja si Supermen, biar beralih profesi jadi tukang bersih-bersih haha.” (tertawa)
 
Fikar : “Haha kamu bisa saja, mana mungkin si Supermen mau jadi tukang bersih-bersih. Udah yuk masuk kelas, bel sudah berbunyi.”
 
Setelah melaksanakan pembelajaran, bel istirahat pun berbunyi. 
Fikar : “Lama-lama tiap kali menangani masalah sama sampah itu kok sulit banget. Apalagi banyak juga yang buang sampah sembarangan, tidak mau membedakan mana sampah daun, kertas, maupun plastik.” Adil    : “Kepala Sekolah juga sudah mencanangkan beberapa rencana namun tidak terealisasi juga.” 
Fikar : “Apa mungkin di ruang guru ada sampah juga??” 
Adil    : “Aku tidak tahu pasti.”
 
Yono : “Hai semua. Lagi bahas apa nih serius amat.” 
Fikar : “Ini lagi bahas masalah penanganan sampah disekolah kita.”
 
Adil    : “Iya soalnya kita juga memikirkan solusi permasalahan ini. Kalau dibiarin nantinya sekolah kita jadi gunung sampah dong.”
 
Yono : “Gimana kalau kita membentuk organisasi lingkungan hidup aja. Gimana??”
 
Fikar : “Nah aku setuju tuh. Dari mana dapat ide seperti itu??’
 
Yono : “Kebetulan aku punya temen, dia cerita sama aku kalau disekolahnya ada organisasi lingkungan hidup jadi sekolahnya selalu bersih dan indah. 
Adil    : “Ooohhh..... Kalau begitu kita usulkan ke Kepala Sekolah. Gimana teman-teman.”
 
Yono dan Fikar : “Setuju.” (berkata bersamaan)